Buka mata, hati, telinga kita

| Sabtu, 15 Februari 2014
Aku mau bertanya kepada Blogers di Indonesia.  Apasih arti Persaudaraan? Cinta kasih kepada sesama? Saling menghargai? Aku tidak mengerti arti dan makna dari istilah itu, aku meragukannya.

Didalam sebuah keluarga pasti ada Bapak dan Ibu, lalu mereka memiliki keturunan yang disebut Anak, ada anak pertama, kedua, dst. Anak-anak itulah yang disebut saudara, tepatnya saudara kandung atau sedarah. Seperti yang kita semua ketahui, anak-anak tersebut pastilah mendapatkan bebagai karakter atau sifat yang sama seperti orang tuanya. Aku bisa bilang begitu karena banyak yang bilang "Darah lebih kental daripada air", iya Pepatah ini memang benar. Dan otomatis saudara itu saling menyayangi, berbagi kisah kasih dan sedih, melindungi, dan saling memvanggakan agar kelak akur sebagai saudara yang harmonis.

Tetapi yang aku lihat keadaan di Dunia sekarang ini berbeda, Dunia ini sudah terbalik, Dunia ini sudah rapuh dan tua untuk memberitahukan saudaranya (manusia) untuk saling mencintai. Mengapa? Karena manusia selalu membantah, apatis, egois, dan tidak memikirkan perasaan orang lain. Kita lihat saja di acara televisi sekarang, tidak jauh dari berita tentang perkosaan, pembunuhan, dan pencurian, seperti berita ini "anak berumur berapa hari dibuang Ibu Kandungnya", "tragedi pembunuhan X dilakukan oleh tetangganya sendiri", dll. Kalo ditelaah lebih jauh, mereka adalah saudara dan sedarah. Tidakkah penyesalan dan rasa takut itu menghampiri setelah melakukan perbuatan tersebut? Sungguh keji.

Astaghfirullah..
Jangan sampai semua makhluk Tuhan yang paling sempurna melakukan hal seperti itu terhadap Saudaranya sendiri, terutama terhadap saudara kandung.

Aku menyampaikan dan bercerita tentang hal yang tidak menyenangkan diatas bukan tanpa alasan dan asal mula. Tetapi karena pembahasan ini berkaitan dengan masalah pribadi di Keluargaku. Aku yang masih beranjak Dewasa ini belajar dari orang-orang sekitar tentang banyak hal, terutama di luar kota, dimana aku menimba ilmu dan pengalaman dari mereka.

Saudara perempuanku (Mbak, panggilan Jawa) berusia 25 tahun. Orang yang baik, cerdas, pendiam, tertutup, dan rajin. Dia sangat berbeda dari kami (saudara-saudaranya), perbedaannya terletak di mental dan batin. Aku sungguh sedih melihat perbedaannya ini ketika Dia masih menjadi Mahasiswi Kebidanan (20) disalah satu Universitas Kebidanan Unggulan di Sumatera. Diusia yang masih muda membuatnya menjadi wanita pemurung, menyedihkan, dan takut dengan pergaulan. Diantara kami yang paling sedih adalah orang tuaku. Mereka benar-benar tidak menyangka Mbak akan menjadi Pribadi yang seperti ini. Orang yang selalu dibanggakan karena prestasinya yang baik dan wajahnya yang manis tetapi malah berujung seperti ini.

Itu adalah tahun-tahun terberat Keluarga kami. Berbagai metode pengobatan sudah dilakukan, tempat terbaikpun sudah didatangi bahkan  sampai keluar kota. Bukan cuman waktu orang tuaku yang terbuang, tetapi juga usaha, kerja keras, biaya, dan hal-hal tak terduga lainnya. Aku yang sehari-harinya adalah anak yang bandel, tidak suka diatur, mandiri, egois, bahkan sering bolos sekolah, menjadi anak yang berubah dengan drastis! Aku menjadi anak perempuan seperti umumnya, yang terlihat lebih baik dan berbeda. Perubahanku ini memang susah dilakukan, tetapi ini demi Keluargaku. Agar tidak terbebani dan stidaknya lepas satu tanggung jawab mereka untuk mengatur-aturku lagi.

Sudah beberapa tahun berlalu, aku sudah menjadi Mahasiswi, sudah menjadi orang yang mandiri dan dewasa sekarang (semoga, amin). Pengobatan mbakku masih belum kelar sampai saat ini dan aku masih harus berjuang lebih keras untuk membantu dan mengurangi beban orang tuaku. Aku berharap kelak mbakku sembuh, menjadi orang yang sehat, menkadi perempuan yang sempurna, bisa bercanda tawa lagi bersama kami. Aku sudah lama memohon kepada Tuhan untuk kesembuhan mbak dan yang terbaik untuknya. Semoga tidak terlalu lama keluargaku menunggu dan melihat kabar baik dari harapanku ini. Amin ya Allah.

Yah Blogers, inilah cerita dariku, ini kisah adalah nyata (non fiksi). Semoga bisa membuka mata batin dan hati kita semua ya, jangan merasa bahwa kita adalah manusia paling rendah, susah, dan mempunyai banyak beban. Karena sesungguhnya orang disekitar kita banyak yang lebih kurang dari kita. Maka, Syukurilah segala sesuatunya.

"Ketika yang lain terjatuh jangan kau tertawakan, ketika yang lain menjadi pribadi yang buruk jangan kau jauhi, karena kelak orang tersebut akan menjadi masa depan yang lebih baik darimu, pasti"

0 komentar:

Posting Komentar

Prev
▲Top▲